HomeHome  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 LATAR BELAKANG DUNIA

Go down 
AuthorMessage
guru guru
Admin


Posts : 58
Join date : 2009-08-12

PostSubject: LATAR BELAKANG DUNIA   Thu Oct 13, 2011 1:14 am

Catatan : Cerita ini FIKSI belaka.

Keadaan Negara


Indonesia, abad 25 bukanlah Indonesia dengan teknologi yang maju seperti yang diharapkan. Terjadi ketidak seimbangan dalam pemerintah sehingga Indonesia menjadi negara dengan banyak kubu politik di dalamnya. Pemimpin negara nyaris tanpa fungsi, hanya menjadi presiden boneka bagi keperluan kelompok-kelompok di bawahnya. Beberapa kubu politik tersebut saling serang, tidak hanya dengan teror fisik namun juga dengan teror psikis. Sebagian pemimpin kubu berusaha untuk menarik simpati masyarakat dengan menyebar janji-janji kosong, yang lain menekan rakyat dengan berbagai ancaman. Semuanya berusaha untuk mendapatkan massa terbanyak, entah untuk apa. Isu Ratu Adil, pahlawan yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin negara, yang muncul dari Timur, Barat, Utara dan Selatan semakin memperuncing pertikaian.

Keadaan diperburuk dengan kemunculan kumpulan penyihir yang sengaja memanfaatkan situasi. Mereka membonceng salah satu kubu dan menyetirnya dari dalam, menawarkan segala kemudahan untuk saling balas dendam kepada kubu lain.

Kehidupan tidak menentu, awalnya ditandai dengan harga barang yang melonjak-lonjak tidak karuan. Dilanjutkan dengan beberapa investor asing yang lari meninggalkan hutang menumpuk yang entah siapa yang akan membayar. Kota-kota kecil semakin melarat, dihuni oleh penduduk-penduduk asli yang mengais-ngais makanan. Kejahatan--tak perlu ditanya lagi--membabi buta di mana-mana. Di atas jam 7 malam, tak ada yang berani keluar, bahkan hanya untuk sekedar membuka jendela. Makanan menipis di berbagai tempat karena jarang pekerja yang berani keluar sendirian. Tumbuh-tumbuhan dibabat untuk diambil akar, batang dan daun untuk dimakan. Jika tak ada makanan, mereka akan berdiam di rumah, mematikan lampu dan berusaha tidur. Mereka yang tinggal di kota yang lebih baik, menyimpan sendiri makanannya, berusaha sebisa mungkin memanfaatkan sebidang kecil tanah untuk ditanami. Mereka yang sedikit lebih pintar berusaha menyilangkan tumbuhan seadanya, sambil berharap akan mendapat makanan yang lebih bermutu ketimbang sebelumnya. Mereka yang punya sedikit uang menyimpannya di bawah kasur, lalu melupakannya--karena Bank tidak lagi bisa dipercaya dan untuk dapat makanan, kau hanya butuh otot dan sedikit kenekatan. Sementara kota-kota besar dikuasai oleh para oknum penjahat berdasi yang menanam apartemen-apartemen mewah bertingkat ratusan yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang berduit dan tentara. Rakyat kecil lainnya? Mereka ditinggal jauh di luar perbatasan yang dipagari kawat berduri dan hutan buatan.

Sebagian besar kota rusak parah. banyak fasilitas kota seperti gardu listrik dan bendungan tidak lagi berfungsi. Di beberapa daerah, tanah yang digali tidak lagi mengeluarkan air jernih, tapi lumpur bau yang sulit disuling. Tanaman-tanaman tercemar oleh sesuatu yang membuat batang-batang mereka jadi kokoh, kisut dan berwarna keunguan. Tanaman yang sudah terkena penyakit ini, jika dipaksa dimakan akan menyebabkan keracunan. Satu-satunya tanaman yang bisa bertahan adalah ketela, namun pertumbuhannya pun terhambat dan hanya mampu menghasilkan umbi sebesar dua ibu jari orang dewasa.

Badan PBB maupun organisasi kemanusiaan berdatangan untuk membantu, walau yang bisa mereka lakukan hanyalah mengunjungi kota-kota pinggiran yang melarat, membagikan makanan dan sedikit obat-obatan. Mereka tidak pernah bisa tinggal lama karena rumor yang beredar, para penyihir itu mengincar mereka yang hendak ikut campur. Di kota-kota pinggiran, teror terjadi setiap kali, antara lain dari beberapa kubu yang mengirimkan suruhan-suruhan berupa makhluk-makhluk gaib. Makhluk-makhluk itu dipakai untuk menekan mental para penduduk agar tidak berani melawan.

Sekelompok penyihir yang menentang perbuatan penyihir-penyihir jahat itu mulai muncul ke permukaan dan turut membantu mengamankan keadaan. Sebagian berpatroli secara rutin ke berbagai daerah, mengenyahkan makhluk-makhluk astral yang mengganggu ketenangan penduduk, sebagian lain mengusahakan bahan pangan dan obat-obatan dengan ilmu yang mereka miliki. Namun, karena jumlah mereka tidak terlalu banyak, perlawanan yang mereka lakukan seakan tidak ada artinya.

Back to top Go down
View user profile http://shivaloka.forumotion.net
guru guru
Admin


Posts : 58
Join date : 2009-08-12

PostSubject: Re: LATAR BELAKANG DUNIA   Tue Apr 17, 2012 2:36 am

Keadaan Kota

Kota-kota yang berada di dekat sungai sedikit beruntung karena mereka masih bisa memperoleh air tanah yang bisa diminum. Kota-kota yang berada di pegunungan kebanyakan sudah ditinggalkan karena tanaman di sana sudah tercemar. Kota-kota yang berada di antara kedua dataran itu biasanya mengusahakan air minumnya sendiri dengan cara disuling. Tanaman yang aman dimakan pada umumnya dari jenis umbi-umbian karena sedikit menyerap air. Cuaca masih berputar dengan teratur, namun terkadang diselingi dengan hujan es dan badai walau intensitasnya tidak sering.

Menurut catatan terakhir, kota-kota yang sudah diduduki menjadi basement pertahanan masing-masing kubu adalah Jakarta, Surabaya, Gorontalo, Banda Aceh, Riau, Banjarmasin, Makassar dan Manado. Tempat-tempat tersebut mayoritas ditinggali oleh pejabat, orang-orang kaya yang masih sanggup membayar sewa tempat maupun bodyguard, pihak militer serta penyihir-penyihir bayaran. Pulau Bali menjadi pulau netral yang tidak bisa didatangi, baik oleh pendatang luar maupun pihak jahat. Energi penyihir-penyihir dari Bali terlalu kuat bagi para penyihir jahat untuk masuk ke sana, namun mereka tidak mudah percaya dengan orang lain sehingga menutup pulau itu dengan menciptakan benteng energi dan benteng alam. Yogyakarta menjadi tempat berkumpul penyihir-penyihir lurus, namun dipenuhi dengan orang-orang berpikiran nyentrik. Kota inipun dibentengi dengan energi yang cukup lumayan untuk menghambat sihir hitam dari lawan. Pedalaman Kalimantan menjadi sarang bagi kekuatan sihir hitam dan putih sekaligus. Hanya anak-anak suku pedalaman yang berani menjelajahi wilayah yang jika dilihat lewat satelit, perlahan-lahan berubah jadi ungu tersebut. Orang pedalaman punya caranya sendiri untuk menempati daerah itu. Irian Jaya menjadi daerah yang terlupakan karena hutannya berubah jadi ungu, tanahnya tandus dan pihak jahat pun tak sudi melirik ke sana. Surabaya menjadi kota yang seimbang perseteruannya antara penyihir hitam dan putih, tidak ada yang lebih kuat atau lemah. Walau termasuk kota yang 'panas' penguasanya, namun kemampuan penyihir-penyihir tuanya tidak bisa diremehkan.

Menurut kabar terakhir yang tercatat, basement-basement lain tempat berkumpulnya penyihir putih ada di daerah : Papua Barat, Kepulauan Bangka Belitung, pedalaman Kalimantan (mereka hidup nomaden), Bali (saat ini tidak bisa dihubungi), Yogyakarta, Solo (dalam jumlah kecil), Aceh (dalam jumlah kecil dan hidup berpindah), Nusa Tenggara Timur, Surabaya (kedudukan seimbang).

Mata pencaharian.

Kepercayaan.
Pada jaman ini orang sudah lelah dengan doktrin-doktrin yang kerap kali malah menyesatkan. Pada akhirnya, mereka kembali pada sebuah kesimpulan, bahwa ada satu kekuatan maha besar di atas sana yang menguasai semua, apapun bentuknya. Mereka memanggilnya Gusti, Allah, sang Hyang, dan sederet nama yang mengarah pada satu inti. Beberapa kaum, masih melakukan ritual-ritual seperti yang diajarkan oleh nenek moyang mereka, sekedar untuk menunjukkan hormat pada kekuatan yang utama tersebut. Namun tidak lebih. Rakyat yang berada di bawah lebih banyak yang berserah, tidak mau membuat keributan di antara sesama yang tertindas hanya karena perbedaan kepercayaan. Bagi para penguasa yang semakin merajalela dengan kejahatan mereka, entah apa yang mengendalikan hati nuraninya, tidak ada yang tahu.

Bahasa.
Bahasa Nasional yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Namun, demi menutupi rahasia informasi dari masing-masing kubu, kebanyakan orang menggunakan bahasa daerahnya masing-masing, beberapa kelompok menggunakan bahasa kode yang mereka kembangkan sendiri. Bahasa Inggris dan asing lainnya jadi yang nomor sekian. Bahasa Indonesia hanya digunakan untuk berbicara dengan orang berbeda suku / tempat.

Komunikasi.
Alat komunikasi yang sering digunakan adalah HT/radio, walau kemungkinan disadap cukup besar. Sinyal handphone tidak lagi berfungsi, sementara peralatan modern seperti laptop dan jaringan internet tidak terlalu banyak. Tower-tower sinyal banyak yang tidak berfungsi. Internet hanya menjadi makanan orang-orang kaya dan berkuasa untuk mengendalikan usaha mereka dari dalam negri. Ada orang-orang yang berusaha mengembangkan kemampuan merpati pos, namun hal ini tidak terlalu berfungsi dengan baik. Kode-kode morse yang dikirim lewat suarapun bukan solusi yang menguntungkan karena mudah diketahui pihak lawan.
Back to top Go down
View user profile http://shivaloka.forumotion.net
 
LATAR BELAKANG DUNIA
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» macam mana nak tambah lampu brake belakang klip2
» Tinggikan absorber belakang
» RIM BELAKANG BENGKOK
» SYM 200 Brake Belakang Jadi Free
» SYM Disc Floating Disc Rotor Depan Belakang

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
ShivaLoka :: SERAT PAMBIKA :: Mengenai Shivaloka-
Jump to: